12.18.2009

PERAN PANCASILA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bebasnya pembalak hutan yang merugikan Negara miliaran rupiah sangat disayangkan. Saat ini terasa ada sesuatu yang hilang, saat para penegak hukum harus bekerja di tengah kultur hukum modern. Mereka mungkin memikirkan tentang keadilan mungkin juga tidak. Peristiwa ini hanya segelintir fakta kejadian yang marak di negeri tercinta ini.
Menjamurnya kasus korupsi, manipulasi, nepotisme dan seabrek penyimpangan hukum di masyarakat merupakan bukti, bila kita sebagai bangsa telah kehilangan kultur yang mengabdi kepada kebenaran dan kepentingan umum
Di negeri yang luas dan kaya ini, kenyataannya rakyatnya banyak yang miskin. Banyak terjadi aneka kejahatan, kebatilan, dan kedhaliman. Bahkan kepedulian pada masyarakat (miskin) makin lemah dan memudar. Mayoritas masyarakat hanya mementingkan diri dan kelompoknya. Egoisme, keserakahan muncul di berbagai lapisan. Contoh riil di masyarakat yakni pudarnya etika berlalu lintas. Pemandangan semrawut dan mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan keselamatan orang lain muncul di berbagai tempat.
Pola pandang masyarakat benar-benar telah terjangkiti perilaku materialistik kapitalistik. Segala aktivitas selalu diukur dengan untung dan rugi. Nilai religiusitas baru disuarakan di tempat-tempat ibadah dan belum banyak diamalkan dalam masyarakat. Meskipun simbol-simbol agama telak marak dimana-mana. Jumlah orang berpendidikan juga semakin hari tambah banyak. Namun hal itu belum menjamin perilaku baik dan benar dalam kehidupan sebagai warga negara.

B. Tujuan
Mengembalikan peran Pancasila untuk menjadikan Bangsa Indonesia berperilaku baik dan benar dalam kehidupan sebagai warga Negara.

C. Rumusan Masalah
1. Bagaiamanakah sikap bangsa saat ini?
2. Apakah Bangsa Indonesia masih menjadikan Pancasila sebagai pedoman kehidupan?
3. Bagaimanakah cara menjadikan moral bangsa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila?

D. Manfaat
Pancasila dapat diterapkan oleh Bangsa Indonesia sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 yang prosesnya tidak instant dalam satu hari itu, tetapi melalui perjalanan panjang sejarah bangsa yang usianya sekitar 300 tahunan. Karena itu, Pancasila tidak bisa diselewengkan untuk kepentingan tertentu karena dampaknya akan melukai perasaan bangsa kita sendiri.
Berbicara mengenai ideologi bangsa bukan merupakan perkara mudah. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif untuk memandang segala sesuatu. Tujuan utama di balik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normative.
William Theodore Bluhm dalam Ideologies and Attitudes: Modern Political Culture (Englewood Cliffs, NJ, 1974) menjelaskan, keberadaan ideologi, di antaranya harus mampu menghilangkan semua kesulitan sosial, dan menghapuskan semua keruwetan kultural melalui otoritas politik yang kuat.
Maka, tidak dapat dimungkiri, ideologi bagi negara adalah penting untuk menunjukkan identitas bangsa. Perlakuan kita terhadap ideologi dapat mencerminkan karakter kita dalam keseharian. Ideologi itu ibarat fondasi yang akan menentukan jati diri kita. Jadi, jika kita tidak punya fondasi yang kuat, maka kita akan mudah terombang-ambing oleh derasnya arus perubahan yang ada di sekitar kita.
Kita menyaksikan, perubahan yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini sangat cepat. Perkembangan teknologi yang dahsyat telah merevolusi banyak hal yang terkait, baik itu langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan kita sehari-hari, mulai dari yang sifatnya materi dan yang bukan-materi.
Demikian pula dengan eksistensi ideologi Pancasila, yang sejarah awal berdirinya bertujuan untuk menjadi ideologi pemersatu bangsa Indonesia. Realitas sejarah membuktikan bahwa Pancasila sebagai dasar negara telah berhasil mengantar kemerdekaan bangsa Indonesia hingga hari ini.
Namun demikian, sejak kelahirannya 64 tahun lalu, selalu ada elemen bangsa yang mempertanyakan relevansi keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia di tengah-tengah perubahan global yang sangat cepat.
Dalam hal ini, bukan berarti kedudukan Pancasila sebagai dasar negara perlu ditinjau kembali, tetapi sebagaimana dikatakan pengamat ilmu sosial UPI Prof. Idrus Affandi, lebih bersumber pada tagihan masyarakat kepada negara tentang seberapa jauh aktualisasi Pancasila dirasakan maknanya oleh mereka.
Jika masyarakat tidak lagi menemukan relevansi Pancasila dengan kehidupan di sekitarnya, maka Pancasila hanya akan menjadi hiasan. Padahal, menurut Idrus, nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah kekal, dan jika benar-benar diimplemetasikan dalam kehidupan sehari-hari, akan mampu menghadapi segala tantangan dan perubahan dinamika kehidupan global di abad ke-21 ini.

BAB III
METODE

Metode yang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah menyunting dari artikel maupun buku dan menyusunnya sesuai dengan bahasannya. Penulis juga menambahkan opini ke dalam penyusunan makalahh ini.

BAB IV
PEMBAHASAN

Pola pandang masyarakat yang telah terjangkit perilaku materialistik kapitalistik ini disebabkan karena bangsa kita belum bersungguh-sungguh menghidupkan dan membangkitkan kekuatan hati nurani. Padahal, hati nurani akan menentukan akal pikiran, sikap dan tingkah laku menjadi penuh nilai kemuliaan dan kehormatan yang hakiki. Hati nurani tidak pernah berdusta dan tidak bisa dibohongi, hati nurani merupakan inti martabat dan kemuliaan bangsa.
Selama kita hanya berpatokan pada kebenaran rasional yang dibungkus dengan nafsu amarah yang dutamakan, jangan harap hati nurani akan memantulkan sinar kebenaran yang terang benderang. Seseorang yang ingin hati nuraninya bercahaya dan mampu memantulkan sinar kebenaran harus mau berbuat baik dan selalu memperbaiki perilakunya. Imam Ghazali, filosof dunia Islam mengatakan perbaikan akhlak akan dapat membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah, hingga ia jernih bagaikan cermin yang dapat menerima cahaya Tuhan.
Kita sebagai bangsa sudah seharusnya memaknai hidup ini tidak sekadar dari aspek material rasional saja. Tetapi aspek spiritual kultural sangat perlu dijadikan pedoman dan kaidah norma dalam hidup berbangsa dan bernegara. Perintah agama mengemukakan “Takutlah akan perbuatan dhalim, maka sesungguhnya kedhaliman itu merupakan kepekatan di hari kiamat. Takutlah akan kekikiran, sesungguhnya kekikiran itu telah merusak orang-orang sebelum kamu, memaksa mereka untuk mengalirkan darahnya dan mereka menganggap halal apa-apa yang diharamkan untuk mereka” (HR.Muslim).
Carut marutnya kehidupan negeri ini karena mayoritas pelakunya tidak menggunakan pandangan moral dan mental spiritual dalam bertindak. Kerusakan moral ini tentunya harus segera mendapat solusi penanganan secara cermat. Keserakahan pejabat harus dihambat dan hukum harus ditegakkan. Bila tidak, tinggal menunggu waktu. Negeri ini akan hancur lebur moral penghuninya.
Negeri ini dibentuk tidak untuk satu kelompok atau golongan. Sebagai bangsa yang menegara, para pendahulu (the founding fathers) telah sepakat bahwa kepentingan rakyat diletakkan di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kekayaan negeri ini diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, saat ini sangat perlu dibutuhkan pejuang-pejuang yang tulus, berbuat untuk kebaikan bersama menuju kehidupan yang lebih baik.
Masyarakat sangat mendamba pemimpin yang mampu memberi suri tauladan pada rakyatnya. Kepekaan, kepedulian, berbuat serta berjuang bersama-sama dengan cara yang santun sangat dinanti rakyat seluruh negeri.
Menyadari sebagai masyarakat yang paternalistik, sudah saatnya para pemimpin memberi contoh nyata dalam hidup dan kehidupannya. Penegakan hukum, jangan sekadar dijadikan hiasan bibir belaka. Rakyat sangat menanti tindakan nyata para penguasa negeri ini untuk berbuat adil dan yang benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat. Ini semua dapat terwujud dengan baik, bila pelakunya tidak membohongi hati nurani masing-masing. Hanya dengan hati nurani yang jernih, perilaku manusia akan mulia dan beradab.

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 yang prosesnya tidak instant dalam satu hari itu, tetapi melalui perjalanan panjang sejarah bangsa yang usianya sekitar 300 tahunan. Karena itu, Pancasila tidak bisa diselewengkan untuk kepentingan tertentu karena dampaknya akan melukai perasaan bangsa kita sendiri.
Pola pandang masyarakat yang telah terjangkit perilaku materialistik kapitalistik ini disebabkan karena bangsa kita belum bersungguh-sungguh menghidupkan dan membangkitkan kekuatan hati nurani. Padahal, hati nurani akan menentukan akal pikiran, sikap dan tingkah laku menjadi penuh nilai kemuliaan dan kehormatan yang hakiki. Hati nurani tidak pernah berdusta dan tidak bisa dibohongi, hati nurani merupakan inti martabat dan kemuliaan bangsa.
Secara konseptual, Pancasila adalah ideologi yang tidak lekang oleh waktu dan juga tahan uji terhadap segala dinamika sejarah bangsa. Masalah yang terkait dengan memudarnya Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa, bukan pada substansi Pancasila tetapi pada bagaimana membumikan Pancasila dalam kehidupan aktual berbangsa. Oleh karena itu, revitalisasi Pancasila dibutuhkan untuk membumikan serta mengaktualisasikan nilai abadi yang terkandung di dalamnya tersebut.

B. Saran
Pendidikan moral harus digelorakan sejak dari tingkat TK sampai perguruan tinggi. Hal ini sangat penting karena pendidikan moral akan memberi dasar pembentukan kepribadian yang bersangkutan. Setelah anak bangsa paham akan teori pendidikan moral, yang lebih penting lagi pengamalan nyata dalam hidupnya. Sangat diyakini pemimpin yang korup telah paham bila tindakannya tersebut keliru. Namun karena dorongan nafsu rendah yang mengabdi pada kepentingan sesaat mengalahkan kebenaran yang sesungguhnya.
DAFTAR PUSTAKA

• Yoga, Guruh. 2008. Mewujudkan Nilai Moral Pancasila di Kehidupan. http://www.indoscript.com [8 April 2009]
• Suwarno, P.J. Pancasila Budaya Bangsa Indonesia. Http://books.google.co.id [8 April 2009]
• Englewood Cliffs, NJ. 1974. Ideologies and Attitudes: Modern Political Culture.


P.S: This is my 2nd semester task for the subject: CITIZEN. :)

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget